KATA PENGANTAR
Rasa syukur kami
panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-NYA makalah yang
berjudul “Gangguan Psikologi pada Kehamilan” dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Makalah ini disusun
sebagai salah satu tugas dari mata kuliah PSIKOLOGI KLINIK pada Universitas
Respati Yogyakarta. Selama penyusunan makalah ini penulis telah banyak mendapat
bantuan dari berbagai pihak dalam bentuk informasi, motivasi serta dorongan
moral dan spiritual, sehingga makalah ini tersusun dan dapat diselesaikan
sesuai dengan rencana.
Disamping itu, penulis
menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan sudah barang tentu masih ada
kesalahan-kesalahan yang luput dari pengamatan penulis. Oleh karena itu, tegur
sapa dan kritik yang konstruktif dari pembaca untuk perbaikan dan penyempurnaan
seperlunya sangat penulis harapkan.
Pada akhirnya penulis
berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 3 Mei 2013
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Konsep ini terutama dianut oleh para ahli di Jerman.
Pada waktu ini peran dominan strukturalisme di Jerman telah diambil alih oleh
aliran Gestalt. Paham Gestalt menganggap struktur pengorganisasian mental
manusia adalah inherent. Struktur ini memungkinkan manusia belajar dan
mendapatkan isi mental itu sendiri. Dengan demikian, Gestalt berfokus pada
konsep mental yang aktif namun tetap empiris.
Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental dari Gestalt
(Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun
tidak empiris. Tidak seperti aliran lainnya, psikoanalisa berkembang bukan dari
riset para akademisi, tapi berdasarkan pengalaman dari praktek klinis. Gejala
pertama kehamilan adalah berhentinya siklus haid normal, kebanyakan ibu hamil
akan mengalami mual dan muntah, akibat mulai berpengaruhnya aktivitas
hormon-hormon yang muncul dalam kehamilan. Seperti Human Chorionic
Gonadottropin ( HCG ), gejala lainnya adalah berkurangnya nafsu makan,
mengidam, kelelahan, frekuensi buang air kecil yang meningkat, mengalami
sembelit dan kemudian akan mengalami perdarahan berbercak dalam kurun waktu
sampai 5 minggu usia kehamilan.
Masa paling berat bagi beban psikis ibu hamil
terjadi di trimester pertama, yaitu ketika perubahan aktivitas hormonal ibu
sedang besar-besarnya. Perubahan inilah yang sering mempengaruhi stabilitas
emosi ibu. Beban fisik dan mental yang di alami ibu hamil biasa di sebabkan
oleh karena perubahan fisik dan hormonnya, seperti bentuk tubuh yang melebar
dan kondisi ibu yang naik turun, beban ini sering diperparah dengan munculnya
trauma – trauma kehamilan, sehingga masalah yang di hadapi ibu pun semakin
kompleks.
1.2. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah gangguan psikologi pada
masa kehamilan agar kita dapat mempelajari dengan seksama mengenai
gangguan-gangguan psikologi pada ibu hamil sehingga kita dapat memahami dan
mengenal apa yang di rasakan,dibutuhkan dan di inginkan oleh wanita hamil.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa
dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara
langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi
dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses
atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.
Masa reproduksi merupakan masa yang terpenting bagi
wanita dan berlangsung kira – kira 33 tahun. Haid pada masa ini paling teratur
dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan kehamilan. Pada masa
ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dan selama ini wanita berdarah
selama 1800 hari. Biarpun pada umur 40 tahun keatas perempun masih dapat
dihamilkan, fertilitas menurun cepat sesudah umur tersebut (ilmu kandungan, 2008).
Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap
kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang
pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan
adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap
sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya.
Perubahan fisik dan emosional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap
penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara
keinginan, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial kultural dan
persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi
psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa
yang berat.
2.2. Hamil yang Tidak di Kehendaki / di Harapkan
1.
Kalangan remaja
Remaja bisa bilang kalau seks bebas
pranikah itu aman untuk di lakukan. Akan tetapi, bila remaja melihat, memahami
ataupun merasakan akibat dari prilaku itu, ternyata hasilnya lebih banyak
merugikan. Salah satu resiko dari seks pranikah atau seks bebas itu adalah
kehamilan yang tidak di harapkan ( KTD ). Kehamilan yang tidak di rencanakan
sebelumnya bisa merampas “Kenikmatan“ masa remaja yang seharusnya di nikmati
oleh remaja laki – laki maupun perempuan. Walaupun kehamilan itu sendiri
dirasakan langsung oleh perempuan, tetapi remaja pria juga akan merasakan
dampaknya karena harus bertanggung jawab. Ada dua hal yang bisa dan biasa
dilakukan remaja jika mengalami KTD ( kartini, 1992 ) :
a. Memperahankan
Kehamilan
Semua dampak tersebut dapat membawa
resiko baik fisik, psikis maupun sosial. Bila kehamilan di pertahankan resiko
psikis yang timbul yaitu ada kemugkinan pihak perempuan menjadi ibu tunggal
karena pasangan tidak mau menikahinya atau tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Kalau mereka menikah, hal ini juga bisa mengakibatkan perkawinan bermasalah
yang penuh konflik karena sama-sama belum dewasa dan belum siap memikul
tanggung jawab sebagai orang tua. selain itu, pasangan muda terutama pihak
perempuan akan sangat di bebani oleh berbagai perasaan yang tidak nyaman,
seperti di hantui rasa malu yang terus menerus, rendah diri, bersalah atau
berdosa, depresi atau tertekan, pesimis dan lain-lain.
b. Mengakhiri
Kehamilan ( Aborsi )
Bila kehamilan di akhiri bisa
mengakibatkan dampak negatif secara psikis. Oleh karena itu, itu pelaku aborsi
sering kali mengalami perasaan-perasaan takut, panik, tertekan atau
stres, trauma mengingat proses aborsi dan kesakitan, kecemasan karena rasa
bersalah atau dosa akibat aborsi.
2.
Wanita Dewasa / Ibu Yang Sudah Menikah
Seorang ibu yang tidak menghendaki
kehadiran anak disebabkan karena mereka merasa akan menganggu karirnya karena
akan membuatnya terikat atau karena ia sudah terlampau sibuk merawat anak-anak
yang lain. Selain itu mereka merasa tidak dapat membagi waktu antara kesibukan
pekerjaan dengan merawat anak. Penyebab terjadinya KDT pada wanita/ibu yang
telah menikah antara lain karena kegagalan alat kontrasepsi yang di pakai.
2.3. Hamil Dengan Janin Mati
Ibu dari janin yang meninggal pada periode perinatal
mengalami penderitaan. Selama kehamilan mereka telah mulai untuk mengenali dan
merasa dekat dengan janinnya, ibu yang mengalami proses kehilangan/kematian
janin dalam kandungan akan merasa kehilangan. Pada proses berduka ibu memperlihatkan
prilaku yang khas dan merasa emosional tertentu. Hal ini di kelompokkan kedalam
berbagai tahapan meliputi :
·
Syok dan menyangkal, ketika di sampaikan
janinnya mati reaksi orang tua/ibu pertama kali adalah syok, tidak percaya dan
menyangkal.
·
Marah dan bergeming, beberapa ahli
menyebut ini sebagai tahap pencarian karena orang tua mencari alasan tentang
kematian. Mereka biasanya mencari hal-hal yang mungkin meraka lakukan dengan
berbeda
·
Disorientasi dan depresi, emosi
predominan pada fase ini adalah kesedihan berduka dibarengi dengan kehilangan,
mereka menolak dan menarik diri, orang tua mungkin mengalami kesulitan untuk
kembali ke kehidupan normal sehari-hari.
·
Reorganisasi dan penerimaan, fase akhir
berduka meliputi penerimaan rasa kehilangan dan kembali beraktivitas normal
sehari-hari. Hal yang sangat individu ini mungkin membutuhkan waktu
beberapa bulan. Energi emosional ditinggalkan dan di kurangi serta mengalami
kembali hubungan baru serta aktivitas baru.
2.4. Hamil dengan Keteregantugan Obat
a. Pengertian
Ketergantungan obat adalah suatu
keadaan kebutuhan fisik atau mental (psikologis) atau kedua-duanya yang terjadi
sebagai akibat pemakaian abat secara terus – menerus atau secara periodik.
b. Dampak
Hamil Dengan Ketergantungan Obat
Pengunaan obat-obatan oleh wanita
hamil dapat menyebabkan masalah baik pada ibu maupun janinnya. Janin akan
megalami cacat fisik dan emosional. Setiap orang tentu menginginkan seorang
bayi yang sehat dengan semua bagian badan terbentuk pada bagian yang tepat.
Wanita hamil dengan ketergantungan obat umumnya takut melahirkan bayi cacat dan
mencoba sebisa mungkin untuk menghindari zat-zat berbahaya yang mungkin
membahayakan perkembangan bayi mereka. Banyak kebingungan dan kegelisahan
tentang apa yang menyebabkan bayi cacat kerena pengaruh obat-obatan. Kalau
terjadi keguguran dan ketidaknormalan bayi akan merasakan takut yang
berlebihan, panik dan gelisah. Salah satu tindakan pada ibu hamil dengan
ketergantungan obat yaitu : mengadakan hubungan dengan keluarga. Keluarga
merupakan lingkungan di mana ibu belajar menyesuaikan diri dalam menghadapi
kehidupan.
2.5. Hamil diluar Nikah
Kehamilan di luar nikah biasanya di akibatkan oleh
pergaulan bebas yang diakibatkan oleh didikan dari keluarganya berupa :
·
Kekurangan kasih sayang yang di berikan
oleh keluarga terhadap anak perempuannya akibat orang tua sibuk kerja,
perceraian dan broken home.
·
Keluarga yang terlalu disiplin sehingga
anak tersebut memberontak untuk menunjukkan kedewasaannya.
2.6. Pseudosiesis
Pengertian pseudosiesis adalah kehamilan amaginer
atau palsu, gejala kehamilan ini secara psikis lebih berat gangguannya daripada
peristiwa abortus. Biasanya gejala yang timbul seperti tanda hamil yang pasti
yaitu :
·
Berhentinya menstruasi
·
Membesarnya perut
·
Payudara jadi besar
·
Pinggul jadi besar
·
Perubahan-perubahan kelenjar endokrin,
dll.
Pada kehamilan pseudosiesis secara psokologis ada
sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya yaitu ingin sekali menjadi hamil,
sekaligus di barengi ketakutan untuk merealisir keinginan punya anak, sehingga terjadi
proses inhibisi.
Keinginan-keinginan tersebut dibarengi rasa bersalah
dan dorongan untuk menghukum diri sendiri yang kemudian di kompensasikan dalam
bentuk agresivitas, secara simultan, berbarengan muncul kesediaan untuk tidak
menyadari bahwa kehamilannya ilusi belaka. Oleh komponen yang kontradiktif ini
biasanya wanita tidak mau ke dokter untuk memeriksakan dirinya.
2.7. Keguguran
Reaksi wanita terhadap keguguran kandungannya itu
sangat bergantung pada kontitusi psikisnya sendiri. Maka tak bisa di pungkiri,
bahwa janin atau bayi yang di kandungnya itu di rasakan sebagai bagian dari
jasmani dan rohaninya sendiri. Dan berkepentingan terhadap ego wanita yang
mengandung embrio tersebut :
1.
Faktor penyebab terletak pada psikis dan
jiwa.
2.
Wanita hamil yang bersangkutan, mencari
bantuan pada faktor penyebab tersebut, melakukan abortus secara tidak sadar.
Semua peristiwa berlangsung di luar keinginan sendiri, di dorong oleh harapan
yang tidak di sadari.
Beberapa penyebab keguguran menurut pendapat
psikiater :
1. Adanya
penolakan dari ayah bayi
2. Adanya
penolakan dari ibu bayi
3. Ketakutan
untuk menjadi ibu
4. Kecemasan
yang disebabkan dari stres pekerjaan atau perselisihan dengan suami maupun
dengan anggota keluarga lain.
2.8. Kemandulan
Pengalaman membuktikan bahwa ketakutan serta
kecemasan yang berkaitan dengan fungsi reproduksi akan menimbulkan dampak
menimbulkan dampak yang merintangi tercapainya orgasme pada coitus. Pendapat
yang keliru tentang reproduksi akan diinternalisasikan (dicernakan dalam
pribadinya) oleh wanita yang bersangkutan dan lambat laun akan menjadi pengaruh
psikis.
Pengaruh
psikis:
1.
Ketakutan-ketakutan yang tidak disadari
(dibawah alam sadar)
2.
Ketakutan yang bersifat inflantile
(kekanak-kanakan).
Ketakutan
tersebut tidak hanya berkaitan dengan fungsi reproduksi saja, akan tetapi
berhubungan dengan segala aspek kegiatan seksual. Adapun sebab-sebab dari
ketakutan tersebut biasanya dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman sejak
pubertas.
Contoh
ketakutan tersebut berupa:
1. Ketakutan
oleh fantasi-fantasi kehamilan, antara lain berupa gejala muntah-muntah dan
perut menjadi kembung.
2. Ketakutan
pada menstruasi hingga merasakan gejala nyeri dan sakit waktu mendapatkan
menstruasi.
Sehingga faktor-faktor ketakutan
tersebut ialah rasa bersalah disadari dan mempengaruhi kehidupan psikis.
2.9. Faktor – Faktor yang Menimbulkan Stres pada Wanita Hamil
Berdasarkan SSRS (Sosial readjusment Rating Scale)
kehamilan menduduki rangking ke 12 dari 43 kejadian dalam kehidupan seorang
yang dapat menimbulkan stres, dengan kata lain bahwa kehamilan membawa
konsekwensi pada wanita-wanita untuk melakukan penyesuaian atau
perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya.
Pada saat seorang wanita hamil, maka sejak saat itu
sampai masa nifas berturut-turut akan mengalami perubahan baik fisik maupun
psikis, perubahan-perubahan yang tejadi mencakup aspek-aspek sebagai berikut :
1.
Frekuensi nafas meningkat ( lebih sering
) membuat wanita hamil akan menghirup lebih banyak ( oksigen ) udara
2.
Perut semakin membuncit
2.10. Gambaran Kondisi Psikologis pada Wanita Hamil
Selama kehamilan banyak wanita yang mengalami
perasaan-perasaan :
·
Marah
·
Tertekan
·
Bersalah
·
Bingung
·
Was-was
·
Kesal
·
Pilu
·
Khawatir
Hal
ini biasanya di tandai dengan gejala – gejala :
·
Kehabisan tenaga atau kebanyakan gerak
·
Tidak bisa tidur walaupun mempunyai kesempatan
·
Menangis tidak tertahan dan mata terasa
berlinang
·
Menyadari bahwa perasaan amat cepat
berubah
·
Sangat judes atau peka terhadap bunyi
dan sentuhan
·
Senantiasa berfikiran negatif
·
Tanpa berwujud merasa tidak mampu
·
Tiba-tiba takut atau gugup
·
Tidak bisa memusatkan perhatian
·
Lebih sering lupa
·
Rasa bingung dan bersalah
·
Makan amat sedikit atau amat banyak
·
Asik dengan fikiran yang menghantui dan
mengerikan
·
Kehilangan kepercayaan dan harga diri
Apabila kondisi-kondisi ini terjadi
secara beruntun sedikitnya selama 2 minggu maka akan menimbulkan kondisi
psikologis yang bermasalah yang sifatnya memerlukan adanya pengobatan.
2.11. Faktor – faktor yang mempengaruhi kondisi psikis pada masa hamil
1.
Sudah punya banyak anak
Banyak anak sebagian orang
merasakan sebagai beban finansial yang harus di tanggung, belum lagi di tambah
kerepotan – kerepotan lainnya, apalagi jika dalam keluarga sudah ada anak
dengan jumlah lebih dari cukup.
2.
Khawatir berubah penampilan
Bagi sebagian perempuan, penampilan
merupakan nilai jual, perubahan bentuk wajah dan tubuh akibat kehamilan dan
persalinan di anggap akan mengurangi keindahan penampilan.
3.
Kemampuan finansial dirasa tidak memadai
Jika si kecil lahir di saat kondisi
keuangan keluarga tengah morat marit memang merepotkan, kondisi ini merupakan
hal yang sangat menganggu kondisi psikologis seorang ibu hamil
4.
Keluhan sulit tidur.
Sulit tidur di malam hari dapat
membuat kondisi ibu hamil menurun, konsentrasi berkurang, mudah lelah, badan
terasa pegal, tidak mood bekerja dan cenderung emosional. Keluhan tidur umumnya
muncul saat usia kandungan memasuki trimester ketiga dimana janin sudah tumbuh
sedemikian besar sehingga terasa menyesakkan. Ditrimester pertama, kadar hormon
dalam tubuh ibu sedang mengalami perubahan drastis yang sering memunculkan
keluhan muntah-muntah, sehubungan dengan itu, keluhan sulit tidur biasanya
muncul karena sebab sebagai berikut :
·
Stres
·
Perubahan hormon
·
Dihantui kecemasan
·
Gangguan psikis
2.12. Cara Mengatasi Gangguan Psikologis Kehamilan
Ibu yang sedang hamil, pasti akan mengalami berbagai
macam perubahan bukan hanya perubahan secara fisik namun juga secara
psikologis. Jangan heran jika ibu yang hamil tiba-tiba menangis atau marah. Ini
terjadi karena adanya perubahan hormonal yang lazim dialami oleh ibu-ibu yang sedang
hamil.
Untuk itu ibu-ibu yang kini sedang mengandung buah
hati, harus selalu menjaga kondisi psikologisnya agar tetap baik dan seimbang.
Jika kondisi psikologis sang ibu baik pastinya sang ibu akan lebih tenang atau
rileks saat menjalani masa-masa kehamilannya. Berikut beberapa cara yang dapat
menyeimbangkan kondisi psikologis saat ibu sedang mengandung:
1. Informasi
Carilah informasi seputar kehamilan
terutama mengenai perubahan yang terjadi dalam diri ibu termasuk hal-hal yang
perlu dihindari saat sedang mengandung agar janin tumbuh sehat. Pengetahuan
atau informasi yang tepat akan membuat ibu merasa lebih yakin sekaligus bisa
mengurangi rasa cemas yang sering muncul karena ketidaktahuan mengenai
perubahan yang terjadi.
2. Komunikasi
dengan suami
Bicarakanlah perubahan yang terjadi
pada diri Anda selama hamil dengan sang suami, sehingga ia juga tahu dan dapat
memaklumi perubahan yang terjadi pada diri Anda. Tidak jarang jika Anda
mengkomunikasikan hal ini, sang suami akan memberikan dukungan psikologis yang
dibutuhkan.
3. Rajin
chek up
Periksakan kehamilan secara
teratur. Cari informasi dari dokter atau bidan terpercaya mengenai kehamilan
yang sekarang Anda jalani. Jangan lupa, ajaklah suami saat berkonsultasi ke
dokter atau bidan.
4. Makan
Sehat
Pahami benar pengetahuan mengenai
asupan makanan yang sehat bagi perkembangan janin. Hindarilah mengonsumsi bahan
yang dapat membahayakan janin, seperti makanan yang mengandung zat-zat aditif,
alkohol, rokok, atau obat-obatan yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil. Jauhkan
juga zat berbahaya seperti gas buang kendaraan yang mengandung timah hitam yang
berbahaya bagi perkembangan kecerdasan otak janin.
5. Jaga
Penampilan
Perhatikanlah penampilan fisik
dengan menjaga kebersihan dan berpakaian yang sesuai dengan kondisi badan Anda
yang sedang berbadan dua. Jangan lupa untuk melakukan latihan fisik ringan,
seperti berenang atau jalan kaki ringan untuk memperlancar persalinan.
6. Kurangi
Kegiatan
Lakukanlah penyesuaian kegiatan
dengan kondisi fisik saat hamil. Memasuki masa persalinan, Anda dan suami harus
sudah siap dengan berbagai perubahan yang akan terjadi setelah kelahiran sang
bayi.
7. Dengarkan
Musik
Upayakan berbagai cara agar
terhindar dari stres. Atasilah kecemasan maupun emosi negatif lainnya dengan
mendengarkan musik lembut, belajar memusatkan perhatian, berzikir, yoga atau
relaksasi lainnya.
8. Senam
Hamil
Bergabunglah dengan kelompok senam
hamil sejak usia kandungan menginjak usia 5-6 bulan. Jangan lupa untuk
berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan. Senam hamil tidak hanya
bermanfaat melatih otot-otot yang diperlukan dalam proses persalinan, melainkan
juga memberi manfaat psikologis. Pertemuan sesama calon ibu biasanya diisi
dengan acara berbagi pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran positif. Melalui
kegiatan itu pula secara perlahan kesiapan psikologis calon ibu dalam
menghadapi persalinan menjadi semakin mantap.
9. Latihan
Pernafasan
Lakukanlah latihan relaksasi dan
latihan pernapasan secara teratur. Latihan ini bermanfaat untuk ketenangan dan
kenyamanan sehingga kondisi psikologis bisa lebih stabil.
BAB III
PENUTUP
Ada berbagai macam depresi/ gangguan psikologi yang
bisa terjadi pada masa kehamilan yaitu:
·
Hamil yang tidak diinginkan
·
Hamil Dengan Janin Mati
·
Hamil dengan Keteregantungan Obat
·
Hamil diluar Nikah
·
Pseudosiesis
·
Keguguran
·
Kemandulan
Adapun faktor yang mengakibatkan gangguan psikologi pada
masa kehamilan antara lain sebagai berikut:
·
Sudah punya banyak anak
·
Khawatir berubah penampilan
·
Kemampuan finansial dirasa tidak memadai
·
keluhan sulit tidur
Cara mengatasi gangguan psikologis pada kehamilan;
mengurangi stress, mengkomunikasikan perasaan terhadap pasangan, memberikan
support dari pihak keluarga, periksakan kehamilan secara teratur, Makan Sehat,
Jaga Penampilan, Kurangi Kegiatan, Dengarkan Musik, Senam Hamil, Latihan
Pernafasan, dll.
3.2. Saran
1. Mencari
informasi seputar kehamilan, perubahan yang terjadi dalam diri ibu dan hal –
hal yang perlu di hindari agar janin tumbuh sehat.
2. Bicarakanlah
perubahan selama kehamilan dengan suami, sehingga ia juga tahu serta di
harapkan bisa berempati dan mampu memberi dukungan psikologis yang di butuhkan
3. Periksa
kehamilan secara teratur
4. Perhatikan
penampilan fisik dengan menjaga kebersihan, melakukan latihan fisik ringan.
5. Upayakan
dengan berbagai cara agar tehindar dari stres.
6. Lakukan
latihan relaksasi dan latihan pernafasan secara teratur.
ibu hamil bisa mencari informasi seputar kehamilannya dari majalah-majalah, buku tentang kehamilan. Tujuannya untuk mengetahui perubahan-perubahan pada ibu hamil, tentang asupan gizi ibu hamil, senam hamil, pemeriksaan kehamilan secara teratur, agar janin tumbuh sehat.
ibu hamil bisa mencari informasi seputar kehamilannya dari majalah-majalah, buku tentang kehamilan. Tujuannya untuk mengetahui perubahan-perubahan pada ibu hamil, tentang asupan gizi ibu hamil, senam hamil, pemeriksaan kehamilan secara teratur, agar janin tumbuh sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Mansur, Herawati. 2009. Psikologi
Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Jakarta Selatan. Penerbit Salemba Medika
Varney H, dkk. (2006). Buku
Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume 1. Jakarta: EGC. Halaman 501-04.
Wulandari, Diah (2009). Komunikasi
dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Jogjakarta: Mitra Cendikia Offiset. Halaman 86-95.
Priyanto A,. (2009). Komunikasi
dan Konseling Aplikasi dalam Sarana Pelayanan Kesehatan untuk Perawat dan
Bidan. Jakarta: Salemba Medika. Halaman 49, 73-4
Sumarah, dkk. (2008). Perawatan
Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin). Yogyakarta:
Fitramaya. Halaman 55
Andriana, E. (2007). Melahirkan
Tanpa Rasa Sakit. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer . Halaman 25-9
Sarwono, P. (2002). Buku
Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
JNPKKR-POGI. Halaman 327-31
Tidak ada komentar:
Posting Komentar